DI MANAKAH letak nilai puisi? Yaitu, antara kemampuannya berkomunikasi dengan pembaca dan bagaimana dia bisa menjadi ajang si penyair untuk unjuk gaya; Antara puisi terang-benderang dan puisi gelap; Antara puisi yang selempang pengumuman dan puisi yang rumit tak dimengerti; Antara puisi yang terlalu menghamba pada pembaca dan puisi yang tak peduli pada pembaca.
Ada rumusan sangat bagus dari Goenawan Mohamad soal nilai puisi dan bagaimana puisi harus bisa berkomunikasi dengan pembaca. Saya [baca: Hasan Aspahani] menyimpulkannya dalam enam butir dan memberi penjelasan — tepatnya penafsiran semampunya — sebagai berikut ini:
Pasal 1. Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada orang lain, yaitu pembacanya.
Penjelasan: Penyair percaya bahwa pembaca puisinya bisa menerima bahkan menikmati puisi dan pesan yang ada dalam puisinya. Niat awal dari penyair adalah keinginan untuk berkomunikasi dengan pembacanya lewat puisi, bukan sekadar unjuk gaya, berakrobat kata-kata. Ini tentu saja bukan sebuah komunikasi yang praktis, seperti komunikasi kita dengan penjaga kios rokok di tepi jalan, ketika kita ingin beli rokok.
Pasal 2. Prestasi kepenyairan yang matang mencerminkan suatu gaya, setiap gaya mencerminkan suatu kepribadian, setiap kepribadian tumbuh dan hanya bisa benar-benar demikian bila ia secara wajar berada dalam komunikasi.
Penjelasan: Pencapaian penyair tidak diukur dari seberapa mudah atau seberapa susah puisinya berkomunikasi dengan pembacanya. Puisi harus secara wajar berkomunikasi. Komunikasi itu adalah kemutlakan karena puisi bukan seperangkat kata untuk tebak-tebakan juga bukan rumus kode judi buntut. Prestasi penyair atau kematangan penyair tercapai apabila penyair bisa memeragakan gaya ucap yang khas dalam puisi-puisinya. Gaya ucap itu pun harus tumbuh secara wajar, bukan gaya yang sekadar beda dari gaya penyair lainnya.
Pasal 3. Sajak yang mencekoki pembaca, atau menyuruh pembaca menelan saja pesan yang hendak disampaikan atau yang dititipkan lewat penyair adalah sajak yang tidak pantas dihargai.
Penjelasan: Komunikasi dalam sajak adalah komunikasi yang iklas dan wajar. Bukan komunikasi yang memaksa. Penyair tidak lebih tinggi posisinya di hadapan pembaca. Penyair bahkan tidak berada di hadapan pembacanya. Ia bersisian dengan pembacanya. Karena itu sajak yang memaksa — dengan demikian juga penyair yang menuliskan sajak itu — tidak pantas mendapat penghargaan.
Pasal 4. Penyair dan pembacanya berada dalam sebuah ruang kebersamaan yang meminta banyak hal serba terang, sebab dengan demikian terjamin kejujuran, dan penyair tidak sekedar menyembunyikan maksud sajaknya bagi dirinya sendiri.
Penjelasan: Penyair bukanlah orang yang berada pada posisi untuk mengelabui pembaca puisinya. Penyair bukan seorang yang mengacaukan kepingan fuzzle untuk disusun kembali menjadi gambar yang utuh oleh pembacanya. Penyair adalah ibarat pelukis. Dia bisa melukis obyek dengan gaya abstrak, realis, atau figuratif. Lalu dia memasang lukisannya di ruang pameran. Pembaca adalah orang yang mengamati dan menikmati lukisan itu tanpa dihalang-halangi oleh garis pengaman dan dengan pencahayaan yang cukup. Tentu saja si pelukis boleh saja menyimpan sendiri maksud atau niat awal yang menggerakkannya melukis obyek lukisannya. Tapi bukan itu yang membuat lukisannya bernilai. Pelukis harus bergirang hati dan ikhlas menerima tafsir yang bebas dan bermacam-macam dari penikmat lukisannya. Lukisan yang baik seharusnya selalu menggerakkan hati siapa pun untuk menikmati dan memaknai.
Pasal 5. Akrobatik kata-kata untuk dengan sengaja membikin gelap suatu maksud sajak menunjukkan tidak adanya kejujuran, yang pada akhirnya tidak lagi dipercaya pembacanya dan kemudian ia pun tidak lagi percaya pada dirinya sendiri.
Penjelasan: Penyair dan sajaknya memang diberi lisensi puitika untuk menyimpangkan, menciptakan, dan menggandakan arti dari gramatika yang lazim. Tapi jurus-jurus itu dipakai untuk membuat asyik dan menarik komunikasinya dengan pembaca, bukan sekadar sengaja bikin gelap dan membuat pembacanya merasa bodoh dan tak berdaya. Kebanggaan penyair bukanlah apabila sajaknya susah dimengerti oleh pembaca.
Pasal 6. Penyair harus meletakkan sajaknya di antara “kegelapan-supaya-tidak-dimengerti” dan “tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca”, tanpa mengaburkan batas antara kedua hal itu.
Penjelasan: Ada titik di ujung kanan, dan titik lain di ujung kiri. Di antara kedua titik itulah penyair harus meletakkan sajaknya. Tidak pernah ada titik yang pasti. Proses menyair adalah percobaan yang terus-menerus. Ada percobaan yang berhasil, ada yang nyaris berhasil, dan ada yang gagal. Penyair hanya harus menyadari ada dua titik itu dan harus pula ia sadar akibat-akibat yang bisa kena pada puisinya bila ia melampaui titik itu.
* Disarikan oleh Hasan Aspahani dari “Pada Mulanya adalah Komunikasi” tulisan Goenawan Mohamad dalam buku “Kekusastraan dan Kekuasaan”, PT Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.
Sunday, March 14, 2010
Wednesday, March 10, 2010
rasa
Satu ranjang tiga nafas di sana kita berbagi. Tapi semuanya tak serta merta membuat segalanya menyatu. Aku tetap belum mengerti semuanya. Tawamu, senyummu bahkan tangismu. Barangkali intensitas belum bisa menyibak kedalaman. Tapi percayalah ada bagian yang terus menebal tiap hari. Aku mungkin tak bisa menunjukkanya karena dia lebih suka menyelinap saat kau terlelap. Atau tersenyum saat kita terpisahkan jarak. Untuk hari ini aku hanya ingin mengucap maaf bersama rasa sayang yang tak pernah kau lihat……
Monday, February 22, 2010
-peace-
Pada sebuah ketidaktahuan manusia menyandarkan diri. Itulah mengapa hidup menjadi sedemikian penuh teka-teki. Pun kita sendiri tak tahu kapan harus berujar akan pergi. Tapi Tuhan pasti tahu hal terbaik yang kalis dari pandangan kita. Sabar teman ayahanda tengah menikmati kesejatian. Sebagaimana tiap hari beliau ucapkan “Sesungguhnya shalatku,ibadahku hidup dan matiku hanyalah untuk Allah SWT.
Saturday, February 6, 2010
Anakku
Anakku malam ini ijinkan ayah mengucapkan terima kasih kepadamu. Atas nyanyian merdu yang kau dendangkan tiap hari. Atas hentakan nada-nada penuh warna yang kau mainkan tanpa jeda. Maafkan ayah jika terkadang tak mengerti akan pilihan melodimu. Tapi yakinlah ayah tetap bisa melihat gerakmu memilih nada. Menyimak intensitasmu menyusun harmoni yang hendak kau gunakan untuk bersuara.
Anakku ayah tahu dalam harimu yang masih baru kau lebih banyak mendengar lagu sendu. Irama yang jauh dari kesempurnaan yang acapkali ayah mainkan. Anakku ayah tahu kau tak pernah menerbitkan syakwasangka untuk ayahmu. Engkau lebih memilih untuk menyelaraskan alunan suaramu dengan tatanan simfoni tak beraturan yang ayah mainkan.
Anakku terima kasihku sekali lagi untukmu.
Anakku ayah tahu dalam harimu yang masih baru kau lebih banyak mendengar lagu sendu. Irama yang jauh dari kesempurnaan yang acapkali ayah mainkan. Anakku ayah tahu kau tak pernah menerbitkan syakwasangka untuk ayahmu. Engkau lebih memilih untuk menyelaraskan alunan suaramu dengan tatanan simfoni tak beraturan yang ayah mainkan.
Anakku terima kasihku sekali lagi untukmu.
Tuesday, August 25, 2009
TITIPAN
Sesungguhnya saya tak begitu mengenal atau berusaha mengenal sosok yang beberapa waktu lalu meninggalkan fananya dunia ini. Rendra sang burung merak. Meski namanya begitu besar menggaungi dunia budaya Indonesia namun keindahan sayapnya tak begitu membuat saya gandrung dengan karya-karyanya. Bukan karena karyanya tidak bagus tapi mungkin karena saya belum menemukan karyanya yang membuat saya tergetar secara pribadi. Karya yang paling saya ingat dari Rendra adalah puisinya tentang para pelacur Jakarta. Puisi yang menelanjangi kentalnya kemunafikan di negeri ini.
Baru setelah kematiannya saya menemukan keindahan dan kedasyatan puisi-puisi Rendra. “Sajak Sebatang Lisong” adalah salah satunya. Bahasa puisi Rendra memang cenderung lebih lugas tidak manis berbuih-buih. Namun kekuatan katanya untuk menusuk benar-benar dalam. Pemilihan katanya juga tak pernah disangka-sangka bahkan untuk kata yang sederhana sekalipun. Menjelang akhir hayatnya Rendra telah bermetamorfosis menjadi sosok yang sangat relijius. Puisi-puisinya juga lebuh banyak memuja kebesarannya. Puisi berjudul Titipan ini menjadi penanda betapa cintanya rendra dengan Tuhan. Bertepatan dengan bulan ramadhan rasanya tema puisi ini sangat cocok untuk kembali mengingatkan kita akan arti sebuah ibadah.
TITIPAN
Sering kali aku berkata, ketika seorang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk
milik-Nya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali
oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku,” dan menolak
keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan sama saja.”
Baru setelah kematiannya saya menemukan keindahan dan kedasyatan puisi-puisi Rendra. “Sajak Sebatang Lisong” adalah salah satunya. Bahasa puisi Rendra memang cenderung lebih lugas tidak manis berbuih-buih. Namun kekuatan katanya untuk menusuk benar-benar dalam. Pemilihan katanya juga tak pernah disangka-sangka bahkan untuk kata yang sederhana sekalipun. Menjelang akhir hayatnya Rendra telah bermetamorfosis menjadi sosok yang sangat relijius. Puisi-puisinya juga lebuh banyak memuja kebesarannya. Puisi berjudul Titipan ini menjadi penanda betapa cintanya rendra dengan Tuhan. Bertepatan dengan bulan ramadhan rasanya tema puisi ini sangat cocok untuk kembali mengingatkan kita akan arti sebuah ibadah.
TITIPAN
Sering kali aku berkata, ketika seorang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk
milik-Nya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali
oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku,” dan menolak
keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan sama saja.”
Monday, June 8, 2009
Terima Kasih

Kembali ke atmosfir yang sudah lama tak pernah saya rasakan. Demikianlah ketika saya mulai merangkai kalimat dan membuat tulisan untukmengisi blog “korannya ucup” yang sudah lama tak menerima postingan baru. Ada sedikit hasrat yang mulai berpijar tiap kali jari-jari saya menyentuh barisan huruf yang tertata rapi di keybord. Sebuah hasrat yang dahulu begitu hangat menemani saya setiap kali berusaha melahirkan karya baik untuk sekadar bersenang-senang atau karena tuntutan pekerjaan. Setelah sekian lama kehilangan kesenangan membuat tulisan kini sedikit demi sedikit saya mulai menemukan kembali kenikmatan itu. Kenikmatan berekreasi di dunia imajinasi dan kenyataan yang bebas.
Sebagai anggota redaksi sebuah majalah, menulis memang pekerjaan saya setiap hari. Tapi entah kenapa sudah lama saya tidak bisa menikmati pekerjaan tersebut. Menulis bagi saya hanyalah sebuah kegiatan rutin yang “biasa”, tak ada letupan, tak ada kegairahan sebuah repetisi tanpa makna, tak ada nyawa. Namun kegairahan ini kembali muncul setelah mempir ke blog Dewi Lestari yang mengulas tulisan Ndoro Kakung di blognya. Nge-blog: Perjalanan Panjang Dengan Hati. Ulasan Dewi Lestari tentang tulisan Ndoro Kakung di blognya mulai menarik hati saya untuk mampir ke blog beliau. Setelah dari blog Ndoro Kakung sayapun menyempatkan diri untuk bertamu ke blognya Raditya Dika
Hasilnya saya kembali tersadar pada hal yang paling esensi tentang menulis. Menulis adalah membiarkan ide bergerak bebas bersama imajinasi disertai sapuan-sapuan suasana hati yang membuat menulis menjadi sebuah perjalanan menyenangkan tanpa batas. Dan yang paling penting menulis adalah sebuah ritual yang bisa dilakukan sembari bersenang-senang. Tanpa beban, tapi punya tujuan yang pasti dan jelas. Dua minggu lalu teman saya kembali membukukan karya-karya puisinya dan mencetak novel ke duanya. Sembari melakukan promosi dia menyempatkan diri untuk mengingatkan saya agar secepatnya menemukan kembali diri saya. Dengan mengais semangat yang masih tersisa saya pun kembali ke jalan yang begitu lama saya tinggalkan. Agar cita-cita sederhana untuk bercerita ke teman-teman, “Eh novelku dijual lho di toko buku…….. berdeketan lagi ama novelnya Pramoedya Ananta Toer,” bisa kembali terwujud.
Terima kasih Dewi Lestari, Ndoro Kakung, Raditya Dika dan temanku yang tak pernah berhenti berkarya Handoko atas semua letupannya.
Monday, April 27, 2009
Greatest Love Of All
I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they posses inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be
Everybody searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs
A lonely place to be, so I learned to depend on me
I decided long ago never to walk in anyone's shadow
If I failed, if I succeed, at least I lived as I believed.
No matter what they take from me they can't take away my dignity
Because the greatest Love of all is happening to me
I found the greatest love of all inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve learning to love yourself,
it is the greatest love of all
And if by chance that special place that you've been dreaming of
Leads you to a lonely place find you strength in love
Saya hanya suka dengan syair lagu ini itu saja.....
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they posses inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be
Everybody searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs
A lonely place to be, so I learned to depend on me
I decided long ago never to walk in anyone's shadow
If I failed, if I succeed, at least I lived as I believed.
No matter what they take from me they can't take away my dignity
Because the greatest Love of all is happening to me
I found the greatest love of all inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve learning to love yourself,
it is the greatest love of all
And if by chance that special place that you've been dreaming of
Leads you to a lonely place find you strength in love
Saya hanya suka dengan syair lagu ini itu saja.....
Subscribe to:
Posts (Atom)